Abdul Hakim El Hamidy, MGN, PhM
Kala Aku
MASUK PENJARA
17 Perjalanan Kehidupan dan Pemikiranku
1
Buah Keyakinan
Lima Kaum, Batusangkar, Selasa 16 September 2003.
Malam itu, suasana di rumah kost yang sederhana terasa begitu indah. Rumah kayu yang hanya dihiasi oleh pohon sawo terasa lain, seolah ada tanaman lain dan bunga-bunga indah menghiasinya. Oh, bagaimana tidak, malam itu aku dan teman-teman seperjuanganku bermimpi indah. Besok pagi, kami akan dikukuhkan menjadi seorang SARJANA. Sarjana di kampus yang Anda pun barangkali tidak mengenalnya, karena kampus kami tidak masuk dalam daftar Perguruan Tinggi Pavorit seperti ITB, IPB, UNPAD, UGM, UI, UNAND dan kampus pavorit lainnya. Anda kenal Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Batusangkar? Sebelum Anda menjawabnya, saya akan terlebih dahulu menjawabnya: “Oh tidak”. Ini barangkali jawaban dari Anda yang tinggal di luar Sumatera Barat, Riau, atau Jambi.Namun, tahukah Anda? Dari kampus inilah saya banyak mendapatkan pelajaran hidup yang justru di kampus sendiri tidak ada mata kuliahnya. Ya, adakah mata kuliah BELAJAR HIDUP…?!! Pelajaran apa saja yang saya dapatkan lewat STAIN Batusangkar? Pelajaran Pertama, pengabdian. Ya, pengabdian. Mahasiswa STAIN se-angkatan saya (1999) umumnya adalah mahasiswa miskin yang tinggal di Masjid, Mushalla, dan Surau. Sepulang dari kampus, kami tidak berfoya-foya, berhura-hura, tapi sepulang kampus kami harus menjadi Dosen TPA alias mengajar anak-anak mengaji. Biasanya, kami mengajar mengaji dari ba’da Ashar sampai menjelang Magrib. Magrib kami menjadi imam shalat. Atau ada juga yang sore harinya mengajar privat, baru selesai Magrib sampai Isya kami mengajar ngaji. Agak sekali seminggu kami juga mengisi pengajian di tempat tinggal kami.
Pelajaran kedua, keyakinan. Saya dan umumnya mahasiswa STAIN periode saya itu kuliah dengan hanya mengandalkan modal uang daftar dan uang masuk, serta keyakinan. Dan, inilah yang saya alami. Satu semester saya seperti gelandangan, tidak jelas tempat tinggal saya. Jadi, dalam satu minggu itu rumah saya banyak. Alhamdulillah, dua bulan saya tinggal di Batusangkar, ada teman yang menawarkan saya tinggal di Mushalla. Wah, alangkah bahagianya saya. Kenapa? Kalau tinggal di Mushalla ya terjamin. Beras dikasih, gaji pun diberi. Artinya, perut sudah aman, biaya kuliah tidak lagi perlu dipikirkan. Kebetulan, waktu saya kuliah (1999) SPP saya sebesar Rp. 180.000 (seratus delapan puluh ribu rupiah). Namun, kebahagiaan saya itu hanya singgah sebentar saja. Jaminan yang saya bayangkan sebagaimana penuturan teman-teman saya, tidak saya temukan sama sekali. Di mushalla itu, saya tinggal justru dengan segudang penderitaan, bahkan hampir 3 hari saya nyaris tidak menemukan nasi. Gaji pun tidak jelas.
Saya tidak tahan, akhirnya saya keluar dari mushalla itu dengan segudang kekecewaan. Kembali saya menjadi gelandangan. Badan saya semakin kurus. Saya pun sempat ragu, haruskah saya bertahan dengan kondisi ini atau tidak? Lanjut kuliah atau berhenti kuliah? Namun, tiba-tiba saya teringat pesan kakak kandung saya, “Hakim, hidup itu adalah perjuangan. Perjuangan memerlukan modal keyakinan. Keyakinan adalah gerbang menuju kesuksesan.” Pesan ini pun membangkitkan semangat saya. Saya yakin, Tuhan tidak buta. Tuhan pasti tidak akan menyia-nyiakan saya.Keyakinan pun berbuah. Suatu hari, saat saya sedang duduk santai berbincang-bincang dengan kakak tingkat saya, datang teman saya, Nofrizal menawarkan kepada saya tinggal di surau di Rao-Rao. Saya sempat berpikir terhadap tawaran itu. Trauma saya tinggal di mushalla belum hilang. Namun, jalan apa lagi yang harus saya tempuh selain tinggal di surau? Oke, tawaran itu saya terima. Beberapa hari kemudian, saya berangkat dengan Nofrizal ke surau itu. Subhanallah, ternyata kekhawatiran saya tidak saya temukan. Justru, masyarakat Rao-Rao begitu perhatian dengan sang imamnya, yaitu saya. Singkat cerita, makan saya dijamin. Saya memiliki kakak angkat, uang kuliah saya bisa saya penuhi. Dan, saya tamat empat tahun. Tidak kurang tidak lebih.
Inilah buah keyakinan akan jaminan Tuhan.
2
Pertolongan Allah Amat Dekat
Luak Sarunai, Batusangkar, Akhir Mei 2006.
Pagi itu, tidak tersisa serupiah pun uang di dompet saya dan istri. Maklum, saya dan istri hanyalah tenaga honorer. Dan bagi pegawai orang lain seperti kami maupun lainnya tentunya akhir bulan merupakan masa-masa kritis soal keuangan. Namun, kami yakin, bahwa Allah tidak akan pernah menzalimi kami. Dia ngasih perut, tentu disediakan pula untuk pengisinya.
Subhanallah…handphone saya berdering. Saya lihat pemanggil di handphone saya “Ust. Edison”. Saya angkat sambil bertanya, “Ada apa ustadz?” Sang ustadz balik bertanya, “Bisa Aa ngisi Muhasabah di SMA I Batusangkar?” Saya jawab, “Insya Allah.” Sesuai dengan jadwal yang ditentukan, saya pun berangkat ke lokasi. Acara kebetulan diadakan di Masjid Taqwa Parak Juar. Sebelum berangkat, saya pelihara niat, agar saya ikhlas dalam menyampaikan, karena ketika hilang keikhlasan dan berharap kepada pujian dan penghargaan manusia, kekuatan kata-kata akan hilang sudah.
Tiba di lokasi. Saya dipersilakan menyampaikan taushiyah sejenak, setelah itu baru saya sampaikan muhasabah. Alhamdulillah Allah menolong saya. Saya bisa menyampaikan muhasabah dengan lancar tanpa ada halangan.Selesai muhasabah saya pamit kepada panitia. Panitia menyalami saya dan mengucapkan terimakasih sambil menyelipkan amplop di tangan saya. Saya tidak pernah berpikir berapa isi amplop itu. Bagi saya, diberi amplop atau tidak, tidak menjadi masalah, karena tujuan pertama dan utama saya bukan untuk mencari amplop, tapi hanya berdakwah saja. Toh kalau dikasih amplop berarti itu rezki dari Allah yang dititipkan ke tangan panitia.Saya pulang ke rumah. Saya suruh istri saya agar membuka amplop. Istri saya pun membuka amplop. Subhânallâh walhamdu lillah wala ilaha ilallah wallahu Akbar. Amplop (rezki dari Allah) berisi Rp. 100.000 (seratus ribu rupiah).
Inilah pembelajaran hidup dan pembelajaran dari sebuah keyakinan, bahwa pertolongan Allah
3
Mengubah Cara Pandang
Batusangkar, April 2008.
Suatu saat, saya memberi ceramah di hadapan ibu-ibu di Mushalla Nurul Yaqin Luak Sarunai Malana Ponco. Saya membahas tentang bagaimana seharusnya menyikapi hidup ini. Selesai ceramah, saya ada salah seorang ibu bertanya dengan segala kepolosannya, “Ustadz, kenapa saya yang rasanya rajin beribadah kepada Allah, berdoa kepada-Nya agar kehidupan saya dirubah, namun seolah tidak ada titik terang. Saya tetap miskin.”Saya jawab, “Bu, yakinlah bahwa doa ibu tidak ditolak Allah, selama ibu taat. Namun, doa itu ditransfer ke hal lain. Misalnya: doa ibu diampuni atau doa itu ditangguhkan, karena Allah tahu kapan waktu yang tepat permintaan itu dikabulkan. Apa bedanya dengan kita. Ketika anak SD meminta mobil Xenia dan ingin berlaga seperti orang dewasa, maka kita menahan untuk mengabulkan permintaannya, karena kita tahu bahwa seumur dia belum tepat diberikan fasilitas mobil. Kalaupun dipaksakan diberi tentunya akan terjadilah hal-hal negatif yang tidak diinginkan. Jadi berbaik sangkalah kepada Allah, Tuhan kita. Dan teruslah berdoa. Sebenarnya Tuhan menginginkan ibu sering-sering memohon kepada-Nya agar ibu semakin mendekatkan diri.”Si Ibu pun manggut-manggut, sambil tak lupa mengucapkan terimakasih atas jawaban saya. Saya tidak tahu apakah ibu tersebut manggut-manggut karena paham, atau justru bingung atas jawaban saya.*
****
Memang, seharusnyalah kita mengubah pandangan terhadap posisi Allah di hati kita semua. Cobalah menyadari, kita ini memiliki Tuhan yang kekuasaan-Nya tidak terbatas, tidak bertepi. Meyakini Tuhan dari sisi positif, akan membuat Tuhan tidak akan pernah ‘berlsaya negatif’ (yang lebih tepatnya, kita tidak akan merasa bahwa Tuhan sudah berlsaya negatif). Bukankah Dia sendiri yang membisikkan kalimat indah kepada Muhammad, Rasul akhir zaman, “Saya tergantung bagaimana cara hamba-Ku memandang.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menganjurkan kita agar selalu berbaik sangka kepada Allah (positive thinking). Dan sebaliknya, bila kita salah memandang Allah, maka sisi itulah yang akan mewarnai kehidupan kita.Setiap kejadian, betapapun pahitnya, pasti selalu menyisakan hikmah yang begitu besar.
Itulah yang diajarkan oleh-Nya melalui kalam-Nya Yang Mulia agar kita tidak putus asa atas sesuatu yang ‘hilang’ dan tidak berbangga diri ketika ‘ada’.Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS. Al-Hadid: 23)Ayat tersebut adalah kelanjutan dari ayat sebelumnya, ayat 22 dari surah yang sama. Dalam firman Allah, tidak ada satu musibah pun yang menimpa bumi dan diri kita semua tanpa lepas dari penglihatan Allah. Dan menjadi sangat mudah bagi Allah untuk mengubahnya. Tergantung kitalah kemudian, bagaimana kita menyikapi segala sesuatu yang terjadi di kehidupan kita. “Tiada musibah yang menimpa di bumi dan (Tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan Telah tertulis dalam Kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hadid: 22).
Biasa sajalah di setiap keadaan. Di saat senang ada Allah, di saat susah pun Allah tetap menyertai. Bukankah ini indah dan sangat indah bukan? Artinya, kita akan tetap bisa tersenyum meski duka menyelimuti. Kita akan tetap tegar meskipun kita sudah kepayahan. Karena kita selalu meyakini Allah bersama kita.Sekedar berkenalan dengan kebesaran-Nya, mari kita coba bertanya, siapa sih Allah? Tentu kita akan menjawab, Allah adalah Tuhannya alam semesta ini. Ilmu pengetahuan manusia sudah bisa menghitung bahwa bumi ini berisi ± 5 milyar manusia. Dan semua ini yang menciptakan Allah. Sedangkan manusia itu hanya satu jenis makhluk dari trilyunan jenis makhluk Allah yang lain; air, api, butiran debu, dedaunan, hembusan angin, hingga partikel yang bisa terinderakan secara kasat mata. Dan semua ini Allah juga yang menciptakan. Lalu, bumi yang berisi milyaran manusia dan trilyunan makhluk Allah yang lain, ternyata hanya satu planet saja dari ± 100 milyar planet di galaksi Andromeda. Sedangkan galaksi Andromeda pun hanya satu dari seratusan milyar galaksi di alam ini! Ini semua yang menciptakan adalah Allah.Semua fakta kebesaran Allah yang terekam di atas adalah adalah menurut jangkauan pengetahuan manusia. Yang tidak terekam? Wallahu A’lam.
Karena jelas ilmu Allah sangat tidak terjangkau oleh manusia.“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Luqman: 27)Lalu apa alasannya bagi kita untuk bersedih? Untuk menangis? Untuk berduka? Untuk berputus asa? Jika kita sadari Pencipta Yang Agung itu selalu mendampingi kita mengarungi kehidupan ini. Dan bahkan bukankah seharusnya kita tidak menjadi hamba-Nya yang lemah lagi miskin? Karena kita bertuhan Allah, Tuhan yang memiliki alam ini semua.
Miskin dalam pengertiannya yang hakiki adalah miskin hati. Dan kaya, pengertiannya adalah kaya hati. Berada dalam istana dengan beragam fasilitas, tidak lantas membuat hidup menjadi indah bila kita sedang “sakit”. Kekayaan melimpah ruah, tapi hidup selalu kurang. Dan sebaliknya, kemiskinan tidak selalu identik dengan penderitaan. Karena ketenangan dan kebahagiaan tidak selalu memakai ukuran materi.Betapa kita sering salah menilai, seorang pejabat, seorang kaya, seorang bintang, mestilah senang. Siapa sangka ternyata begitu banyak dari mereka yang kehidupannya selalu berada dalam suasana ketsayatan, suasana ketidaktenangan, dan suasana kekhawatiran. Bahkan ada saatnya di mana mereka berkata, “Siapa yang bisa memberikan saya ketenangan? Pasti saya akan bayar dengan seluruh harta dan kepopuleran yang saya genggam.” Atau, “Siapa yang bersedia menggantikan kedudukan dan posisi saya, saya akan serahkan semua yang saya punya.”“Dan sekiranya orang-orang yang zalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Az-Zumar: 47).Tentu saja yang demikian bila mereka menghadapi masalah yang pelik. Dan memang begitu. Tidak jarang kita dengar seorang publik figur berakhir kehidupannya dengan sebuah cerita tragis, sad ending.Banyak orang yang begitu tsayat kalau kenikmatan yang digenggam, kesenangan yang diraih, musnah sewaktu-waktu. Termasuk kita. Kita takut miskin bila bersedekah. Kita tsayat “jatuh kelas” jika bergaul dengan masyarakat bawah. Kita tidak tenang, karena harus selalu berpacu “menjaga kondisi”, harus terus menerus tampil cantik, tampil anggun, tampil atletis, tampil tampan. Kita tsayat miskin, tsayat tidak populer dan tsayat mengalami ketuaan. Kita menjadi khawatir bila tidak lagi pejabat, bila tidak memiliki kekayaan dan bila tidak lagi menyandang bintang, maka hidup kita akan menjadi terlunta-lunta, kesepian akan mendera. Segala yang kita miliki seolah adalah segalanya bagi kehidupan kita.Inilah yang kerap membuat hati selalu beriak, selalu berombak. Stres! Karena jelas, energi manusia tidak sanggup mengimbangi kehidupan yang serba materialis. Kehidupan menjadi hampa, karena tujuan hidup yang demikian memang hampa. Jasad kasar terus menerus dimanja, diberi makan, sementara ruhani tidak pernah diperhatikan. Ruh menjadi kering, ruh menjadi berontak, dan ia akhirnya akan “menangis” kelelahan. Terurailah air mata lantaran tak ada penghargaan dari orang sekelilingnya. Kesedihanlah yang ada bila menyaksikan badan sudah tidak mampu menikmati kekayaan yang ada lantaran penyakit kronis. Dan kepedihanlah yang ada ketika kekayaan sudah tergenggam, kesuksesan sudah teraih, tapi kebahagiaan tak kunjung datang, ketenangan tak kunjung menghampiri.Mulailah hati menjadi iri, justru kepada mereka yang tidak punya. Mereka yang ukurannya miskin bisa tertawa lepas, bisa menyanyi dan menari bebas. Mereka yang kelihatannya berkecukupan iri kepada suatu kelompok masyarakat yang justru menjadi bagian dirinya.Belajarlah dari cerita Qarun dan Tsa’labah. Dua manusia yang kehidupannya berakhir dengan kematian yang menyedihkan. Dua manusia yang pernah berjaya menggenggam kehidupan, tapi harus hidup dengan kesendirian dan penderitaan.Siapalah yang ingin hidup seperti Qarun ketika kehancuran begitu nampak di muka. Dan siapa yang ingin dekat dengan Tsa’labah ketika kutukan telah menghias kehidupan. Tidak ada! Tidak ada satu pun yang bersedia. Semuanya akan bilang, “Wah…lebih enak kita jadi sendiri. Hidup tenang. Meski duit tidak berlebih, tapi tak ada hutang yang membuat hidup tak tenang”, “Biar tidak kaya asal sehat”, “Biar miskin asal hidup bebas”, dan sebagainya.Allah dan Rasul-Nya juga mengajarkan keikhlasan. Bukan saja keikhlasan ketika memberi, tetapi keikhlasan ketika beribadah serta keikhlasan ketika menerima cobaan dan ujian. Dalam keikhlasan terkandung kesabaran, dan keikhlasan menjadikan keimanan menjadi begitu indah. Pelangi akan segera menghiasi bentangan langit. Keikhlasan dan kesabaran akan membuat kita tegar dan tetap bersandar kepada-Nya. Dengannya kita bisa menerima kepahitan sebagai sesuatu yang memang harus diterima sebagai ketentuan Tuhan. Kiranya inilah juga yang akan membuat kita senantiasa enteng menjalani hidup ini.
4
Sejenak Bercermin
Suatu hari istri saya yang sabar dan murah senyum, tiba-tiba salah paham. Wajahnya yang manis tiba-tiba berubah menjadi ‘sedikit menyeramkan’. Pasalnya istri saya ‘cemberut’. Saya sempat kelabakan juga untuk mencari cara agar suasana cair kembali. Woww !! saya dapat ide cemerlang menurut ukuran saya. Anda penasaran, kira-kira ide apa yang saya temukan sehingga bisa membuat istri saya tersenyum kembali dan wajahnya kembali manis seperti biasa. Saya dekati istri saya. Saya usap kepalanya dengan penuh kasih sayang lalu saya suruh istri saya agar berdiri di hadapan cermin masih dalam kondisi cemberut.“Bagaimana sayangku, cantik nggak kalau lagi cemberut?”“Iiiy jelek!” Katanya sambil tersenyum.“Nah kalau begitu coba berdiri lagi di depan cermin. Tatap wajahmu, apakah masih jelek atau tidak”Istriku pun segera memenuhi titah saya. Ia segera berdiri di depan cermin sambil tersenyum.“Bagaimana, manis ‘kan?” “Ih, Aa ini ada-ada saja.” Istriku tersenyum lagi sambil mencubit pipiku yang kurus.
Yah, Kita ini terkadang sangat suka sekali memelihara ‘kemarahan’ dan ‘cemberut’ hanya karena hal-hal yang sepele. Padahal, kalau kita jujur, kita sendiri sangat tidak senang dan tidak nyaman kalau melihat orang marah dan cemberut. Dan, hal yang harus kita camkan, bahwa ketika kita marah dan cemberut energi yang dikeluarkan lebih banyak daripada ketika kita tersenyum. Maka, saya ingin memberikan tips “Sejenak Bercermin” dalam rangka, agar Anda tidak memelihara ‘kemarahan’ dan ‘cemberut’ yang ujungnya justru ketidak nyamanan. Anda bisa melakukannya sekarang juga. Ya, caranya seperti cerita saya di atas, “Bercerminlah dengan dua keadaan: sambil tersenyum dan sambil cemberut. Lalu Anda lakukan penilaian dengan jujur, mana yang lebih enak dipandang antara senyum dan cemberut.Tips “Sejenak Bercermin” pun mengajarkan kepada Anda, bagaimana Anda mensyukuri nikmat anggota tubuh yang Tuhan berikan kepada Anda. Maka, Nabi Muhammad s.a.w. mengajarkan kepada Anda, agar ketika Anda bercermin selalu membaca doa “Allâhumma kamâ hassanta khalqi fahassin khuluqi” Namun, setelah Anda membaca doa ini Anda kecewa dan berkata, “Wajahku jelek, saya tidak perlu membaca doa ini…” Saya katakan kepada Anda, “Anda jangan membandingkan wajah Anda dengan Primus, Zascia Adya Mecca, dan orang-orang yang tampan dan cantik di banding Anda, namun coba Anda jalan-jalan ke kebun binatang, lalu bandingkan wajah Anda dengan Si Amang...Saya yakin, Anda akan berkata, “Wah, gantengan saya lho dibanding Si Amang.” Tips “Sejenak Bercermin” juga memberikan makna yang sangat dalam terhadap kehidupan Anda. Dengan bercermin, Anda akan melihat perubahan wajah Anda. Bukankah wajah Anda ketika masih muda sudah sangat jauh berbeda dengan wajah Anda ketika sudah tua? Selagi muda, wajah Anda begitu segar, kulit begitu kencang. Namun, ketika Anda sudah tua, wajah Anda sudah layu, kulit pun sudah kendur. Semua ini memberikan makna, bahwa Anda sebentar lagi tidak akan bisa berdaya, berkata, bahkan bergerak sekalipun. Ya, inilah kematian. Anda pasti akan mati. Benar bukan?
“Sejenak Bercermin”. Ya, bercerminlah dalam sehari minimal sekali agar Anda semakin tahu siapa diri Anda sebenarnya.
5
Menikmati Dugaan
Dalam suatu kesempatan, Ustadz Aceng menyampaikan seloroh tentang anggapan atau dugaan manusia. Kata beliau, “Wah kita ini rupanya saling menduga. PNS menduga bahwa menjadi pedagang itu enak, karena uang banyak dan punya kebebasan. Pedagang menduga juga, bahwa PNS itu enak. PNS itu kan sudah ada jaminan gaji tiap bulan. Mau hujan, mau panas, mau kerja mau tidak, gaji tetap diterima. Dugaan pedagang pun hampir sama dengan para petani. Para petani yang setiap hari membanting tulang. Hujan kehujanan. Panas kepanasan. Mereka menyangka bahwa PNS dan pedaganglah yang senang. Nah, mereka itu saling menduga, bahwa yang diduga itulah yang senang dan bahagia. Kalau begitu, “Siapa yang paling senang dan bahagia.” Tanya Ustadz Aceng kepada jamaah Tamhid Al-Muballighin. Para jamaah pun terdiam. Mereka semua bingung, tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan sederhana itu. Ustadz Aceng pun menjawab sendiri pertanyaannya, “Yang paling senang dan bahagia itu adalah “Orang Gila”. Orang gila itu tidak pernah susah, dia selalu senang. Walaupun pakaiannya compang-camping, makanannya kotor, badannya dekil, namun ia justru menikmatinya. Tertawa, senyum, adalah bagian dari kehidupan orang gila.”Saya dan para jamaah pun tertawa. Saya percaya, sang ustadz tidak ingin mengajarkan kepada jamaahnya agar jamaahnya menjadi ‘orang gila’, sang ustadz hanya
Kita pun adalah bagian dari dugaan orang lain. Termasuk saya pun adalah bagian dugaan itu. Saya masih ingat, ketika saya masih mengajar di STAIN Batusangkar, tidak sedikit orang yang datang ke rumah saya meminjam uang. Uang untuk modal dagang, uang untuk membayar SPP kuliah, dan lain-lain. Saya terkadang bersyukur dan terkadang bersedih. Kenapa saya bersyukur? Saya bersyukur karena mereka menduga saya banyak uang, kaya. Ya, berarti mereka mendoakan saya menjadi orang kaya. Namun, saya juga bersedih. Saya bersedih karena saya tidak bisa memenuhi permintaan mereka. Coba Anda bayangkan, gaji saya menjadi Dosen Luar Biasa ketika itu paling banter mencapai Rp. 400.000 (empat ratus ribu rupiah) setiap bulannya. Sedangkan, yang mau meminjam uang kepada saya adalah jutaan rupiah. Mereka menduga, bahwa dosen itu uangnya banyak. Mungkin mereka melihat pe-nampilan saya yang perlente, dan hidup saya seperti tidak pernah susah. Ya, prinsip saya: kenapa susah itu harus diperlihatkan kepada orang lain? Memperlihatkan kesusahan menurut saya tidak banyak manfaatnya. Untung kalau orang yang melihat saya susah itu kasihan lalu membantu saya, yang beda justru mereka yang melihat saya susah, justru lebih susah dari saya. Ini kan sama dengan cerita ‘Si Botak dan Si Gundul’, Si Susah dan si Miskin. Wajarlah kalau kita patut meminta hanya kepada Tuhan, “Iyyaka nasta’in”.Ya, apa hikmah dari dugaan itu?Kita jangan melihat orang dari sisi luarnya saja. Belum tentu orang yang rumahnya megah, mobilnya mewah itu senang. Mungkin dia lebih menderita batinnya dibanding kita yang hanya biasa-biasa saja. Maka, jadikan ‘dugaan’ itu hanya simpanan di kepala kita dan bangkitlah jika dugaan itu positif untuk kemajuan kita. Bukankah ketika orang menduga kita banyak uang, berarti dia tidak secara langsung mendoakan kita? Bukankah ketika orang menduga kita sudah seperti ‘bapak-bapak’, secara tidak langsung dia mendoakan kita untuk men-jadi seorang ayah. Sahabatku, jangan bersedih ketika orang bertanya, “Anakmu sudah berapa?” Jawab saja, “Doakan saya agar anak saya banyak.”
Selamat menikmati dugaan!!!
6
Acer Parkir
Memiliki LAPTOP adalah impianku sejak menjadi penulis dan editor. Entah sudah berapa kali doa kupanjatkan kepada Tuhan. Dan akhirnya, Tuhan menjawab doaku. Akhir Mei 2009 aku memiliki laptop Acer seharga Rp. 6.500.000 (enam juta lima ratus ribu rupiah). Wah, alangkah gembiranya aku. Ucapan syukur tak henti-hentinya kuucapkan kepada Tuhan. Hal yang mengherankan, harga diri saya seolah tiba-tiba naik karena keberadaan Acer ini. Teman-teman sesama editor di Penerbit Zikrul Hakim, Ciawi Bogor berdecak kagum. Kata mereka, kamu ini luar biasa. Baru bekerja satu bulan di Zikrul sudah punya laptop, sedangkan kami yang sudah beberapa bulan, bahkan sudah bertahun-tahun belum juga ditakdirkan memiliki laptop. Yang berlebihan, adalah Amir, anak Ketua RW yang sering main ke kantor. Dia mengatakan, “Wah, Pak Hakim ini kaya ya. Baru kerja satu bulan sudah punya laptop.” Aku tersenyum. Bukan karena senang dipuji, tapi karena sangkaan mereka kurang tepat. Aku ini tidaklah kaya secara materi, cuma penampilan saja yang berlebih. Siapa sangka kalau aku ini orang kampung, orang tua tidak tamat SD, dan berasal dari keluarga sederhana bahkan boleh dibilang miskin. Namun, aku mengamini ucapan mereka. Semoga aku benar-benar menjadi orang kaya yang bisa membantu sebanyak-banyak orang.
Kembali kepada soal kegembiraanku. Aku sangat bergembira bisa menggenggam laptop, karena dengan laptop aku bisa menulis di mana dan kapan saja. Praktis. Acer itu begitu saya cintai. Dan begitu pula dengan istriku. Istriku pun menyukainya. Namun, itulah harta. Itulah barang. Acer itu hanya singgah di tangan saya sekitar tiga bulan. Kenapa demikian?Pagi hari, seminggu menjelang Idul Fitri 2009. Saat itu saya mau mengedit artikel yang akan dikirim ke salah satu Koran nasional di Jakarta. Acer sudah saya keluarkan dari tas. Saat saya mau membuka dan menghidupkan laptop, istriku memanggil dengan suara lembut. Ia meminta tolong agar saya memijitnya. Katanya, badannya sakit-sakit. Sebagai suami, tentu saya tidak tega membiarkan istri dalam kesakitan. Akhirnya, saya putuskan untuk menangguhkan pekerjaan saya, dan saya memilih memijit istri. Saya pun menuju kamar. Sementara laptop saya biarkan di ruang depan sekaligus ruang tamu. Sementara itu jendela tak berterali dalam keadaan terbuka. Saya pun mulai memijit istri. Saya keluarkan tenaga ekstra yang membuatku lelah. Saya pun tertidur sekitar setengah jam. Setengah jam kemudian saya terbangun dan menuju ruang depan mau melanjutkan pekerjaan saya. Sementara istri saya biarkan tertidur pulas. Saat saya mau mau membuka dan menghidupkan laptop, saya terkejut karena laptop sudah tidak ada di tempat semula. Saya pun berusaha mencarinya di tas dan di dalam lemari. Namun saya tak menemukannya. Saya pun terpaksa membangun istri dan bertanya, di mana laptop diletakkan. Istri saya pun kaget. Ia mengatakan bahwa ia sempat terbangun dan laptop tetap berada di tempat semula. Kesimpulannya: LAPTOP ACER-KU hilang tanpa jejak, alias sudah ada yang mengambil tanpa izin. Inna lillahi wa inna ilahi rajiun.Saya pun terpekur. Oh, ACER PARKIR….Memang apa yang kita miliki belum tentu menjadi miliki kita. Inilah dunia, semuanya titipan dan hanya singgah sebentar. Kami pun mengikhlaskan kepergian ACER. Kami hanya berdoa, mudah-mudahan ACER itu bermanfaat. Dan kalau sang pencuri mencurinya karena terdesak untuk menghidupi istri dan anak-anaknya atau sekedar untuk keperluan hari raya idul fitri, saya ikhlas dan saya niatkan untuk sedekah. Ya, kalau pun tidak ikhlas, ACER tetap takkan kembali.
7
Dunia Ini Adalah Parkir
Suatu hari di bulan Ramadhan 1429 H/September 2008, aku didatangi oleh salah seorang ibu yang memintaku untuk membacakan surat Yasin agar bisa melihat sang pencuri. Kebetulan ibu ini baru saja kehilangan uang Rp. 200.000. Sambil berkelakar aku berkata, “Bu, kasihan sekali surat Yasin ya. Dibaca hanya untuk melihat dan menangkap pencuri. Memangnya surat Yasin gunanya untuk ini ya? Saya khawatir Bu, kalau saya bacakan surat Yasin, rupanya pencurinya sudah dulu baca surat Yasin agar dia tidak tertangkap. Wah, jadinya BERADU YASIN. Kalau menurut saya, coba ingat-ingat betul di mana ibu meletakkan uang itu. Jangan-jangan salah simpan.”
“Tidak mungkin salah simpan. Saya menyimpan uang itu dalam tas saya malam tadi. Eh, paginya sudah tidak ada. Saya yakin pencurinya itu si Wati, pembantu Mak Dang Jus. Siapa lagi kalau bukan dia? Di rumah itu cuma ada dia dan Mang Dang Jus. Mak Dang Jus tidak mungkin mencuri. Untuk apa dia mencuri uang yang hanya Rp. 200.000 itu? Dia itu kan orang kaya. Tidak ada artinya uang Rp. 200.000 itu baginya.“
“Jadi, ibu meyakini kalau si si Wati itu pencurinya?”
“Iya Aa.”
“Astaghfirullah Bu, jangan berburuk sangka. Buruk sangka itu dilarang agama. Apalagi ibu memfitnah seseorang tanpa bukti yang jelas. Sudahlah Bu, cari dengan teliti. Kalau tidak ketemu, relakan saja. Mungkin ini peringatan dari Allah kepada ibu agar rajin-rajin sedekah. Bukankah uang itu titipan?”
Ibu itu termenung.
Aku bertanya lagi padanya,“Apakah uang yang Rp. 200.000 itu hanya satu-satunya uang yang ibu miliki?”
“Tidak. Saya punya simpanan di Bank.”
“Kalau boleh tahu, kira-kira berapa uang ibu di bank?”
“20 juta.”
“Yang 20 juta itu sudah dizakatkan atau disedekahkan belum?”
“Belum pernah, Aa.”
“Nah, itu dia masalahnya, Bu. Jadi, yang 200.000 anggap saja sedekah. Kalau kita rela dengan ketentuan Allah, Allah pasti akan ngasih pahala. Ingat sekali lagi, bahwa uang yang ditangan belum tentu akan menjadi milik kita. Milik kita yang sebenarnya adalah apa yang telah kita infakkan kepada orang lain. Itulah tabungan kita di akhirat kelak.”
“Terimakasih, Aa atas nasehatnya.”
“Sama-sama, Bu.”
***
Masalah Terbesar yang ada pada diri kita adalah, ketika kita menganggap bahwa apa yang ada pada kita adalah milik kita. Padahal, sesungguhnya apa yang ada pada diri kita bukan milik, tapi hanya titipan belaka. Saya katakan kepada Anda, “Belajarlah kepada tukang parkir!”Suatu saat, Anda menitip kendaraan Anda kepada tukang parkir. Setelah selesai urusan Anda, lalu Anda membayar uang parkir, kemudian Anda mengambil kendaraan yang Anda titipkan kepadanya. Nah, apakah Anda melihat raut wajah tukang parkir itu sedih, duka, atau merasa kehilangan….?! Saya rasa tidak. Ia santai-santai saja. Mengapa demikian? Penyebabnya adalah, karena tukang parkir tidak merasa memiliki melainkan hanya merasa tertitipi. Jadi, ada dan tiada tidak banyak mempengaruhi sikap mentalnya.Anda pernah kehilangan uang, HP, atau barang lainnya? Jawaban Anda, “Pernah.”Sikap terbaik seorang mukmin adalah: tenang, senyum dan kembalikan kepada pemilik-Nya. Bukankah barang yang dititipi pasti akan diambil pemilik-Nya.
8
Wajah Baru Acer
Cirebon, Januari 2011.
Semenjak kehilangan ACER-ku, aku cukup kewalahan untuk menuliskan ide. Lebih dari satu tahun aku menjadi orang kaya tapi tanpa ACER. Yang kumaksud kaya adalah, lebih dari satu komputer dan laptop yang telah kupakai untuk membuat buku. Bagiku, tidak ada alasan untuk menghentikan hobiku menulis buku. Alhamdulillah, kendati tidak ada laptop, selama di Pekanbaru aku dapat mengeluarkan satu karya yang berjudul Kun Sa’idan, sebuah buku yang berisi tips-tips hidup bahagia.
Sudah berapa kali aku hendak membeli laptop, namun selalu gagal. Ada-ada saja keperluan yang mendesak dan diluar dugaan. Memperbaiki motor yang rusak akibat tabrakan, membayar hutang, dan keperluan lainnya. Ramadhan 2010, aku hampir saja membeli laptop, namun itu pun urung. Ya, akhirnya aku menikmati kekayaan dengan banyaknya komputer dan laptop orang lain yang kupinjam dan kurental.
Hari itu, aku dapat kiriman uang dari Penerbit. Aku dapat kiriman royalty dari Republika Penerbit, uang itu ternyata kupergunakan untuk ongkos pesawatku dan istriku ke Cirebon, sebuah kota yang dikenal dengan julukan ‘Kota Wali’.
Mimpiku tidak padam. Aku terus berdoa dan berusaha seraya bermimpi bahwa aku berada di depan laptop. Benarlah, Januari 2011, akhirnya aku memiliki laptop ACER 4738Z. Aku bersujud di hadapan-Nya sebagai tanda syukur, karena Allah telah mengganti laptopku yang hilang dengan laptop baru dan tentunya dengan wajah baru.
Sekarang…laptop ini sangat kujaga sebagai bentuk rasa syukurku. Aku pergunakan untuk menulis. Aku pergunakan untuk mengisi pelatihan. Aku berusaha untuk mempergunakan laptop ini di jalan-Nya.
Benarlah kiranya, jika kita ditimpa musibah kita selalu meminta yang terbaik kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Allahumma ajirni fi mushibati wakhluf li khairam minha.
9
Tanah Merah di Depan Rumah
Sudah hampir 2 bulan lamanya, tanah merah didepan rumah yang kudiami – yang sebenarnya adalah rumah kakakku – masih belum juga selesai digarap. Alasannya, selain tidak ada gerobak dan cangkul, aku pun sibuk pulang pergi dari Pekanbaru ke Batusangkar. Ya, ada urusan penting (tepatnya dipenting-pentingkan). Pulang ke rumah mertua, jemput adikku yang sudah tamat MAN 2 Lima Kaum, untuk coba-coba tes di kelas Internasional di UIN Suska Riau.Hari itu, baru saja aku sampai di Batusangkar, hanphoneku berdering. Kulihat pemanggil. Ternyata kakakku, Asep. Aku sangka dia akan memberi informasi lanjutan perihal bukuku Kun Sa’idan yang baru terbit, ternyata ia menegurku karena dapat laporan dari Bang Ujang bahwa tanah merah di depan rumah untuk meratakan pekarangan rumah belum juga kelar-kelar digarap. Aku pun terdiam. Aku tidak punya dalih untuk melawan. Kuakui memang aku salah, kenapa tanah itu dibiarkan menghalangi pemandangan rumah yang sebenarnya tidak begitu sedap untuk dipandang.
Berbicara tanah merah, aku sering menggigil ketakutan, karena ada ungakapan tanah masih memerah. Yang dimaksud adalah orang itu baru dikuburkan di tanah itu. Aku khawatir, kalau aku akan mendapat giliran dikuburkan di tanah merah itu. Bukan persoalan takut mati, tapi persoalan bekal apa yang kan kubawa pulang. Aku membayangkan, Malaikat Penjaga Kubur begitu bengis menamparku habis-habisan, karena dosa-dosaku.Kalaulah alasan ini diterima oleh kakakku. Kenapa aku membiarkan tanah merah itu masih berada di depan rumah? “Aku ingin tanah itu menjadi peringatan bagiku akan datangnya ajal.” Ya, bagaimana aku akan dimasukkan ke liang lahat dan diantar oleh orang-orang yang mencintaiku dan aku mencintai mereka. Namun, mereka dengan penuh ketegaan meninggalkanku seorang diri di dalam liang kubur.
Tanah merah, adalah peringatan bagi saya dan Anda, bahwa kita akan menemui ajal. Pertanyaannya, “bekal apa yang sudah kita bawa?”
10
Tawon
Saya dan istri sering memerhatikan hal-hal unik dalam hidup keseharian, termasuk memerhatikan tawon di rumah saya. Beberapa hari ini, saya memerhatikan tawon yang membuat sarang di setiap sudut rumah. Karena dianggap merusak suasana rumah yang sebenarnya rumah yang kami diamipun tidak begitu indah untuk dipandang, akhirnya kami memutuskan untuk ‘menghancurkan sarang tawon di ruangan tamu. Sebenarnya, kami tidak tega menghancurkan rumah yang telah dibuat sang tawon, namun keputusan ini diambil karena berbagai pertimbangan. Pertama, merusak pemandangan (suasana) rumah sebagaimana yang telah disebutkan. Kedua, takut membunuh calon-calon tawon. Hal ini didasari karena kami pernah membiarkan tawon itu membuat sarang sampai selesai. Ketika sarang tawon itu sudah seminggu hinggap di rumah kami, karena merusak pemandangan, maka kami pun sepakat menghancurkannya. Eh, ternyata dari sarang tawon itu keluar anak-anak tawon, yang masih belum bergerak lincah. Kami pun merasa berdosa dibuatnya. Sejak saat itu, kami pun sepakat untuk menghancurkan sarang tawon, sebelum sarang itu mengeras dan menyimpan anak di dalamnya.Namun, satu hal yang membuat kami salut. Setiap kali sarang tawon itu kami hancurkan, maka besok harinya sang tawon itu kembali membuat sarang di tempat yang sama, bahkan ia membuatnya di tempat yang lain, seperti di kamar mandi, di kabel listrik, di pintu rumah, dll. “Wah, hebat juga semangat tawon ya! Tak pantang menyerah. Barangkali dia sering mendengar lagu D’Masiv.” Kataku pada istri sambil berkelakar. “Barangkali ya, Aa…Koq kita kalah semangat dan istiqamah sama tawon ya!” Timpal istriku.
Tawon, memang hanya seekor binatang. Namun, ia telah memberikan pelajaran berharga kepada saya – dan barangkali kepada Anda – tentang istiqamah (keteguhan). Hal ini mengingatkan saya kepada sejarah para sahabat Rasulullah Saw. di masa silam yang bernama Bilal bin Rabah. Kendati ia diancam, diinterogasi, dan disakiti oleh sang majikan, agar meninggalkan agama Muhammad [Islam], namun Bilal tetap konsisten. Dari mulutnya hanya keluar ucapan “Ahad…Ahad…Ahad” Esa…Esa…Esa…” Sebuah keyakinan yang luar biasa!!! Saya berpikir, kalaulah saya menjadi Bilal, belum tentu saya sanggup menahan derita siksaan yang luar biasa itu.
Tawon, telah mengajarkan, bahwa hidup ini harus punya prinsip. Kalau kita yakin bahwa apa yang kita lakukan adalah benar, maka ‘tancap saja!’. Jangan takut celaan. Jangan takut untuk dihancurkan. Justru jadikanlah kehancurkan itu sebagai awal semangat untuk kembali membangun. Jangan takut untuk gagal. Tapi, jadikan kegagalan itu sebagai jalan untuk membangun kesuksesan.
Terimakasih tawon! Dan maafkan, kalau saya telah menghancurkan impianmu membangun rumah yang indah!
11
Kuda Saja Punya Rasa Malu
Suatu hari, saya memerhatikan seorang kusir bendi memecut kudanya. Sang kuda, walaupun menahan sakit ia tetap menjalankan tugas tuannya. Dari pagi sampai sore, ia mengerahkan tenaga ekstranya. Berjalan dan menyusuri jalan aspal. Eh, jerih payahnya hanya diimbali dengan rumput. Sedangkan sebagian besar kerjanya dinikmati oleh tuannya untuk membeli keperluannya. Kuda pun ridha dengan kenyataan ini.
Satu hal yang saya perhatikan lagi, sepanjang jalan, si kuda senantiasa ghaddul bashar (menundukkan pandangan). Ia barangkali mengamalkan isi Al-Quran secara tekstual. Dan, satu hal yang membuat si kuda tertunduk, karena ia malu tidak menggunakan busana, alias telanjang. Benar, kuda tidak pernah pakai celana. Ia memang tidak mampu membelinya. Namun, dengan keterbatasannya, ia tetap memiliki rasa malu yang luar biasa.
Itu cerita kuda.
Di waktu yang lain, saya melihat pemandangan yang memilukan di antara sekelompok manusia Ia begitu bangga telanjang. Ia dengan lantang, "Inilah seni. Seni itu indah. Kita mesti bersyukur kepada Tuhan dengan anugerah tubuh ini...! Maka menampakkan seluruh bagian tubuh hatta kemaluan pun termasuk bagian dari syukur.
Sudah gila apa orang ini? Inikah bentuk mensyukuri nikmat Tuhan? Benarkah Tuhan memerintahkan makhluk-Nya agar menampakkan seluruh tubuhnya di hadapan khalayak, di berbagai media massa. Sudah edan kali!!!
Kayaknya, lebih berakhlak kuda dibanding segelintir manusia. Kuda saja masih punya rasa malu. Lho, kenapa manusia sudah berani mencampakkan mahkota malu, yang merupakan mahkota yang harus senantiasa dipakai.?
Saya pernah mendengar seloroh dari salah seorang ustadz. Kata ustadz itu, wanita sekarang kuat-kuat ya. Saya bingung dibuatnya, "Apanya yang kuat?" Ia pun menjelaskan, "Wanita sekarang, kuat menahan rasa dingin. Lihatlah, ia mengendarai sepeda motor di siang hari dan bahkan malam harinya hanya memakai celana pendek. Saya saja pakai celana panjang merasa kedinginan.Dan yang paling kentara, wanita paling kuat rasa tidak malunya. Eh, ia dengan bangga berani menampakkan lekuk-lekuk tubuhnya. Benar nggak?
Tulisan ini bukan memburukkan kaum hawa. Namun, itulah kenyataan di sebagian masyarakat. Sebenarnya fenomena hilangnya rasa malu tidak hanya menjangkiti kaum hawa, kaum adam pun demikian.
Yuk, sedikit belajar dari kuda perihal rasa malu. Ya, memang kita tidak perlu meminta kepada Tuhan menjadi kuda. Tetaplah menjadi manusia dengan perangai layaknya manusia.
12
Kala Aku Masuk Penjara
Ahad, 19 Ramadhan 1431 H, bertepatan dengan 29 Agustus 2010 M, aku harus masuk penjara. Inilah untuk kedua kalinya aku masuk sel tahanan di Parak Juar Batusangkar, Sumatera Barat. Dua tahun sebelumnya, 2008, aku pun pernah masuk sel tahanan ini dalam moment yang sama. Sebelum aku masuk LP Kelas II B Batusangkar ini, aku membayangkan wajah-wajah seram dengan tato di sekujur tubuh. Aku menduga bahwa sel tahanan adalah tempat di mana berkumpulnya para pendosa. Dugaan ini barangkali pun menjadi dugaan Anda yang belum pernah masuk penjara atau sel tahanan. Namun, malam itu adalah malam yang sangat berkesan, seperti kesan dua tahun yang lalu. Saat aku masuk sel tahanan, aku pun tidak merasakan penyesalan. Justru aku mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Pelajaran, bahwa kita mesti merubah paradigma berpikir tentang sel tahanan dan para penghuninya.
Malam itu, aku mengendarai sepeda motor Smash. Tepat di pintu masuk LP, aku melihat penjaga sel membuka pintu dan mempersilakanku masuk dengan takzim. Sepertinya ia sudah menunggu kedatanganku sejak tadi. Memang, aku agak sedikit terlambat. Aku datang tepat sang muazin di mushalla At-Taubah LP mengumandangkan azan. Biasanya, aku datang sepuluh menit atau lima menit menjelang shalat Isya. Aku masuk penjara bukan karena dosa membunuh, mencuri, berjudi, maupun berzina. Aku masuk penjara karena ada jadwal ceramah Ramadhan. Setelah masuk pintu LP, aku langsung menuju Mushalla At-Taubah. Tepat di pintu Mushalla aku mengucapkan salam dan disambut dengan jawaban penuh semangat oleh para penghuni LP yang saat itu sudah menunggu waktu shalat Isya dan tarawih. Saat aku masuk, aku seolah bukan melihat wajah para pendosa yang terhukum, justru aku melihat wajah-wajah bersih bercahaya. Kulihat 90 % mereka mengenakan pakaian muslim untuk shalat. Aku jadi menepuk diri. Oh, jika mereka masuk karena kesalahan mereka, lalu dengan penuh rasa bersalah mereka menyesal dan mengakui kemudian berusaha memperbaiki diri dan berusaha membersihkan kesalahan-kesalahan mereka, tentu jadilah mereka sosok yang bersih setelah berkubang lumpur. Lalu bagaimana denganku? Malam itu, aku merasa, bahwa akulah orang yang berdosa. Mungkin, aku mengakui dosa di hadapan Tuhan setiap selesai melaksanakan shalat, namun apakah aku pernah mengumumkan dosaku di hadapan manusia secara lantang. Ini dosaku…ini dosaku…ini dosaku…!!! Yah, mungkin mereka hina di hadapan manusia. Mungkin merasa tersingkir dari masyarakat, namun justru mereka sangat mulia dalam pandangan Tuhan. Bukanlah sebaik-baik manusia adalah yang bertaubat dan membersihkan diri? Malam itu, penjara telah mengajarkan aku agar aku mampu melihat sesuatu yang buruk dengan kacamata yang berbeda. Jangan lihat tampilan, tapi lihatlah di luar tampilan. Setelah aku berpikir sejenak, dan saat salah seorang penghuni penjara mengumandangkan iqamat, aku pun maju ke depan sebagai imam. Akulah imam pendosa di depan orang yang telah bersih dari dosa….
13
Masuk Surga Karena Dosa
Ahad, 19 Ramadhan 1431 H/29 Agustus 2010 M. Malam itu, selesai shalat Isya dan Tarawih berjamaah bersama para penghuni LP Kelas II B Batusangkar, aku dipersilahkan untuk menyampaikan ceramah. Aku langsung menaiki mimbar yang telah disediakan. Sebelum memulai ceramah kupandang wajah-wajah bersih para penghuni LP.
Aku tak tahan untuk memandang lama. Aku langsung menyapa para penghuni LP. Kuucap hamdalah, syahadat, shalawat dan kusitir ayat-ayat Al-Quran. Malam itu, aku ingin membangkitkan motivasi para penghuni sel, bukan ingin menggurui dan menghukum mereka layaknya para pendosa yang terhukum. Aku berpikir, tema apa yang tepat untuk disampaikan. Tiba-tiba aku mendapat ilham. “MASUK SURGA KARENA DOSA.” Yah, masuk surga karena dosa inilah tema yang sangat tepat. Ketika aku menyampaikan tema ini, para penghuni sel sekaligus jamaah tarawih terkesima. Mereka sepertinya kaget. Masak iya ada orang yang masuk surga karena dosa. Aku segera menjelaskan dengan gamblang, bahwa tema ini didasarkan pada perkataan salah seorang ulama salaf, “Wahai para muridku, janganlah berbangga dengan amal-amal kita, karena bisa jadi amal kebaikan kita akan memasukkan kita ke dalam neraka. Dan sebaliknya, dosa bisa memasukkan seseorang ke dalam surga.” Para murid sang ulama tersentak, “Wahai Guru, tidak mungkin seseorang masuk neraka karena kebaikan dan masuk surga karena dosa….” Sang Guru pun menjelaskan, “Para Muridku, seseorang memang berbuat kebaikan, namun ia riya, merasa diri paling hebat amalnya, lalu ia merasa bahwa dirinya tak berdosa, sehingga ia tidak pernah beristighfar dan bertaubat. Maka, karena riya dan kesombongannya Allah masukkan ia ke dalam neraka. Namun, ada orang yang berdosa, ia menyesal, menangis, lalu memperbaiki diri dan mengisinya dengan amal kebaikan, dan ia tidak merasa bahwa ia berbuat baik. Maka, Allah masukkan ia ke dalam surga karenanya.”“Wahai Saudaraku, saya sangat berbahagia bertemu dengan kalian di LP ini. Kalian barangkali lebih mulia dan bersih dari saya yang sedang berdiri di mimbar ini.” Tuturku kepada para penghuni Penjara. “Mungkin selama ini saya menganggap kalian adalah orang yang berdosa dan terhukum. Tapi saya salah. Saya benar-benar salah, ternyata Saudaraku benar-benar orang yang bersih karena Saudara telah mengubah diri, menyesal, lalu menjadi kupu-kupu yang indah.”Wajah para penghuni berseri-seri. Kulihat wajah kebahagiaan terpancar di wajah mereka. Kulihat malam itu, wajah mereka bagaikan Malik bin Dinar yang telah membersihkan diri dari dosa, atau wajah Fudhail bin Iyad yang dengan tulus mengakui kezalimannya. Akhirnya Malik bin Dinar dan Fudhail menjadi sosok yang dikenal penghuni bumi dan penghuni langit.Duhai malam yang indah. Aku dalam penjara. Tapi aku merasa bagai di taman surga!!!
14
Bahaya Bocor
Jum’at, 18 September 2010.
Setelah mengistirahatkan badan yang kedinginan di rumah kakak saya, Aa Asep, di Kandang Lamo, Tanjung Pati, Payakumbuh Sumatera Barat, tepat pukul 05.30 WIB (sesudah shalat Subuh) saya dan istri mohon undur diri ke Kakak Ipar, Ni Nar, untuk melanjutkan perjalanan menuju Trans Koto Bangun Kapur IX, tempat tinggal orang tua saya.
Pagi hari, kami pilih sebagai waktu keberangkatan yang sangat tepat. Pasalnya, saya tidak memiliki SIM C. SIM C memang ada di dompet, namun sudah tidak berfungsi lagi, karena sudah mati empat bulan yang lalu. Bukan karena malas mengurus SIM, tapi karena uang untuk mengurus SIM saya pergunakan untuk keperluan lain yang lebih perlu dan mendesak. Maka pintar-pintar memilih waktu adalah pilihan yang harus saya pilih untuk menghindari razia Pak Polisi. Apalagi, Polisi Payakumbuh – kata sebagian orang – sangat disiplin dan tidak ada kata ampun. Saya pikir, wajar saja kita kena razia dan ditilang, kalau melanggar aturan. Saya rasa polisi tidak akan menangkap orang yang tidak bersalah. Buktinya, saya sering lalu lalang Batusangkar-Payakumbuh-Pekanbaru saat terjadi razia, namun tidak pernah ditilang karena waktu itu surat-surat berkendaraan saya lengkap. Sambil menikmati udara pagi Limapuluh Kota, sepeda motor SMASH yang kami kendarai menjalankan dua rodanya. Tertib. Disiplin. Tidak saling iri. Sesekali, pada kecepatan 30-40 km/jam, kami mengobrol santai. Namun, dalam keceriaan kami, tiba-tiba saat menuju pendakian kelok Sembilan saya merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan ban belakang motor saya yang sudah gundul. Karena saya sering mengendarai sepeda motor, saya sangat tahu keganjilan-keganjilan. Saya pun berhenti. Sementara istri saya yang tidak mengerti apa-apa perihal sepeda motor celingak-celinguk kebingungan, lalu bertanya, “Ada apa, Sayang?” Saya jawab, “Kayaknya ban belakang bocor. Coba lihat!” Istri saya pun turun dan melihat ban belakang. Benar dugaan saya. Ban belakang bocor.Segarnya udara pagi, tiba-tiba membuat tubuhku lemas. Bukan karena saya harus mendorong sekian kilometer, namun rasa kasihan saya terhadap istri lah yang membuat tubuh saya lemas. Saya memang memutuskan untuk menaiki sepeda motor dan terus membawanya sampai saya menemukan tukang tambal ban. Saya tidak kuat untuk mendorongnya karena pendakian Kelok Sembilan cukup tajam. Tapi bagaimana dengan istri saya? Dia tidak bisa sepeda motor. Berarti dia harus berjalan sekian kilometer mengiringi sepeda motor yang saya kendarai. Namun, dahsyat….kelemasan saya akan rasa kasihan saya tiba-tiba saja hilang. Saya sangat beruntung memiliki istri yang sabar dan tegar. Kendati badan istri saya kecil, namun ia memiliki jiwa yang tangguh. Ia berkata, “Sayang, sabarlah dan perbanyak istighfar. Jangan kau pikirkan aku. Aku siap berjalan mengirimu. Bukankah salahku kenapa aku nggak bisa mengendarai sepeda motor? Tenang saja, itung-itung olahraga pagi.” Cess… dadaku pun terasa dingin, walaupun diriku sebenarnya tak tega melihat istriku berjalan mengiringi sepeda motor yang kukendarai.Hampir satu jam kami menelusuri jalan yang penuh belokan dan perbukitan. Perlahan tapi pasti kami pun sampai di tempat tambal ban. Dengan napas tersengal-sengal istriku menghentikan kedua kakinya yang sudah sekian kilometer dipakai berjalan. “Sayang, entar nanti malam Aa pijit kakinya ya….!” Kataku menghibur. “Wajib….!!!” Sahut istriku manja sambil tersenyum dalam kelelahan.Hampir lima belas menit kami menunggu tukang tambal ban. Pasalnya, pagi itu baru menunjukkan pukul tujuh lewat. Tempat tambal belum mulai beroperasi. Untung saja, ada seorang perempuan keluar rumah melihat kami. Kami pun langsung menanyakan di mana si tukang tambal ban. Ia mengatakan bahwa tukang tambal ban baru bangun tidur dan sedang mencuci muka. Ia pun menyuruh kami untuk menunggu beberapa menit.Sambil beristirahat sembari mengurangi kelelahan, kami melihat pemandangan yang indah di pagi hari. Tak lama kemudian, si tukang tambal ban keluar rumah menuju tempat tambal ban yang terletak di samping rumahnya. Ia meminta maaf karena keterlambatannya. Kami pun maklum. Saya langsung meminta tolong agar ban dalam sepeda motor diganti saja. Pasalnya tutup pentinnya sudah lepas dari bannya. Si Uda tukang tambal ban dengan telaten membuka ban, lalu mengganti ban dalam (benen) dengan ban dalam yang baru. Singkat kata, pekerjaan tukar ban dalam pun selesai. Saya menanyakan ongkos atau upahnya. Rp. 35.000, katanya. Saya pun membayarnya sambil mengucapkan terimakasih. Ia pun menerimanya dengan senang hati sambil mengucapkan terimakasih.Alhamdulillah, perlahan tapi pasti. Kami pun sampai ke Trans Koto Bangun, pukul 11.05 WIB dengan selamat.
***
Bocor itu memang bahaya. Kebocoran ban membuat seseorang kelelahan dan menghabiskan energi. Bocornya rumah, membuat rumah basah dan menyibukkan pemilik rumah untuk menampung air dan mengepel.Namun, bocornya ban sepeda motor dan rumah hanya membahayakan dan melelahkan fisik saja. Ada kebocoran yang amat berbahaya, yaitu kebocoran iman. Iman yang bocor menyebabkan seseorang putus asa dan lepas control. Bunuh diri adalah salah satu buktinya. Yuk, perbaikilah kebocoran iman kita dengan akidah yang mantap bahwa Tuhan senantiasa akan menolong dan melindugi kita. Dia tidak pernah zalim kepada hamba-hamba-Nya.
15
Melanggar Aturan
Tadi pagi, 02 Oktober 2010, pukul 07.00 WIB, setelah mengantar istri ke DTA (Diniyah Takmiliyah Awwaliyah) Al-Munazirin, Tampan, Panam, Pekanbaru, saya segera meluncur menuju KASMA.NET yang terletak tidak jauh dari pom bensin Panam. Saya bermaksud men-scan sampul dua buku saya, GETARAN MUHASABAH dan KUN SA'IDAN, untuk dimasukkan ke profil di facebook-ku. Namun, langkah saya terhenti saat akan memasuki warnet, karena kelihatannya warnet belum buku. Padahal di pintu kaca tertulis 24 jam online. Saya tanya ke warung sebelah. Ia mengatakan bahwa penunggu warnet sedang keluar. Sambil menunggu, saya memerhatikan jalanan panam. Lalu lalang kendaraan, dari mulai sepeda, motor, becak motor hatta mobil pun tak luput dari perhatian saya. Entah sudah berapa puluh atau berapa ratus kendaraan yang lewat. Saya pun tidak berniat menghitungnya, selain sia-sia, pekerjaan ini akan memusingkan kepala saya saja.Kalau ada honornya mah nggak apa-apa 'kan? Hehehe! Namun, ada satu hal yang menarik perhatian, dari semenjak pagi tadi sampai kira-kira menjelang pukul 08.00 WIB, saya melihat pemandangan yang menggelikan. Puluhan orang di pagi itu kena ditilang polisi,karena mereka memakai pengaman kepala alias helm.
Sebenarnya, menjelang warnet, saya pun melewati tiga orang polisi yang menertibkan para pengendara, namun saya termasuk di posisi aman, karena saya menggunakan helm SNI. Padahal, sempat terjadi keraguan dalam hati, haruskah lewat atau belok kiri memutar jalan? Pasalnya apa? Anda mungkin sudah bisa menebak. Tiada lain adalah SIM saya sudah habis masa aktifnya. Alias MATOT (mati total).
Ah, untung saja polisi bukan Tuhan, yang bisa mendeteksi dan mengetahui jantung saya yang dag-dig-dug, dipenuhi rasa cemas. Benar sekali ungkapan Nabi Muhammad, "Dosa adalah apa yang menyesakkan dadamu (meresahkan hati) dan takut jika diketahui manusia." Setidaknya, secara hukum saya telah berdosa dengan tidak mematuhi aturan sebagai seorang pengendara motor.
Demikianlah, melanggar aturan akan menyebabkan seseorang ditilang. Padahal, apa susahnya memakai helm? Bukankah keselamatan untuk kita juga? Jika saya kembangkan kata-kata saya ini kepada agama, "Apa susahnya mematuhi aturan Tuhan, dan apa enaknya melanggar aturan Tuhan?" Tapi, memang manusia ini pelupa dan cenderung 'makhluk pelanggar' dan 'suka mencoba'. Coba perhatikan, manusia yang melanggar aturan Tuhan. Dilarang berzina, eh malah berzina. Kata seorang anak muda, "Kenapa kamu berzina dengan pasanganmu?" Ia menjawab, "Saya nonton film porno, tiba-tiba saya syahwat saya melonjak, lalu saya ajak pacar saya, kemudian saya praktekkan. Rupanya enak." Gila!!! Sudah berdosa, masih bisa bilang enak. Padahal, kalaulah manusia tahu bahwa siapa yang melanggar aturan Tuhan, akan ditilang. Bahkan bukan hanya ditilang, ia akan dijebloskan ke dalam penjara sepanjang masa (neraka). Bagi yang berminat melanggar aturan, silakan daftar kepada Iblis, teken kontrak.
Mau coba....?!!
16
Tertawa Karena Tertipu
Sudah hampir dua minggu televisi di rumah Mama dan Papaku (mertua) tidak mau menampakkan siaran. Kata jasa service televisi LBN-nya rusak, dan harus diganti. Maka, kami memutuskan untuk membeli LNB ke pasar Batusangkar.
Saya dan Megi, adik iparku, dengan cepat meluncur dari Bukit Gombak menuju Batusangkar. Tidak ada halangan di jalan, alias lancar. Memang sesekali terjadi sedikit kemacetan karena masih suasana lebaran. Namun, karena kami mengendarai sepeda motor, sedikit kemacetan itu bisa diatasi.
Kami pun menuju toko elektronik. LNB pun dibeli dengan harga Rp. 140.000 (seratus empat puluh ribu rupiah). Harga awal yang ditawarkan sang pemilik toko adalah Rp. 150.000 (seratus lima puluh ribu rupiah), namun kami pun melakukan tawar menawar, dan hanya dapat potongan sepuluh ribu rupiah. Lumayan. Kami pun tidak tahu, apakah kami membeli LNB terlalu mahal atau sedang. Kami tak peduli. Kami sudah terlalu percaya kepada pemilik toko yang mengatakan bahwa ia tidak mau mengambil untung banyak-banyak, takut tidak berkah. Jujur atau berdustakah sang pemilik toko….? Hanya Tuhan yang tahu.
Kami pun sepakat dengan harga tersebut. Megi, yang memegang keuangan langsung membayarnya. Kami pun kembali dengan membawa LNB merk Goldsat.
Sepeda motor yang kubawa meluncur dengan cepat. Tepat di depan simpang empat Bukit Gombak, kami terkejut dan sempat hampir menghentikan sepeda motor. Apa pasal? Saya dan Megi melihat ada orang di samping sepeda motor badannya miring mendekati selokan air. “Ada kecelakaaan, Aa?” Tanya Megi padaku. “Kayaknya.” Jawabku. Namun, tiba-tiba kami pun melihat keanehan. Tangan kiri orang tersebut merogoh sesuatu di selokan, sedang kepalanya melihat ke arah jalan. Tidak ada luka. Tidak ada tanda-tanda jatuh dari sepeda motor atau pun kecelakaan yang parah. “Wow…kita ketipu, Megi!” kataku sambil tertawa. Megi pun tertawa. Ternyata orang yang kami sangka kecelakaan, sedang mengambil sesuatu di selokan.
Sahabat, ternyata ada hal-hal kecil yang bisa membuat kita tersenyum dan tertawa. Dan tertawa dan tersenyum itu tidak mesti menerima sesuatu yang bersifat materi, bahkan melihat sesuatu yang tampak sebuah musibah–padahal bukan–akan membuat kita tersenyum simpul. Dan, satu hal yang mesti kita camkan, bahwa tidak sedikit kita melihat bahwa bencana itu sebagai bencana, padahal dibalik bencana yang kita lihat dan kita rasakan tersimpan hikmah, yang jika dirasakan dengan dzauq iman akan terasa nikmat.
Maka, lihatlah sesuatu dengan kacamata yang bening, niscaya hidup akan terasa indah dan nikmat.
17
Tungku
Harga minyak tanah di Pekanbaru semakin menggila! Per Oktober 2010 ini, selepas pulang dari rumah mertua di Batusangkar, saya dikejutkan lagi dengan harga minyak tanah. Rp. 7.000 (tujuh ripu rupiah) per liter. Ya tujuh ribu rupiah per liter. Dan harga ini bisa terus melonjak. Pasalnya, sekarang sudah mulai digalakan memakai gas elpiji. Bahkan, tiap rumah didata. Dan, seminggu yang lalu sudah ada sekitar 40 keluarga di Perum. Graha Suka Makmur yang mendapatkan kompor gas dan gas elpiji gratis.
Saya dan istri geleng-geleng kepala. Pasalnya, harga minyak tanah di Batusangkar berkisar antara Rp. 3500 – 4.000 per liter. Jadi, harga minyak tanah di Pekanbaru dua kali lipat harga minyak tanah di Sumatera Barat. Biasanya, uang Rp. 40.000 – 50.000 cukup untuk mengisi kompor di rumah sekitar satu bulan. Nah, dengan harga dua kali lipat seperti saat ini, berarti dana yang dikeluarkan untuk satu bisa mencapai dua kali lipat. Rp. 80.000 – 100.000.
Menghadapi hal ini, saya dan istri tidak begitu panik. Panik sedikit wajar saja. Biasa, keterkejutan sesaat. Ya, namanya juga hidup. Turun-naik. Naik-turun. Apa bedanya dengan harga minyak dan harga sembako lainnya. Dari sedikit kepanikan dan keterkejutan ini, saya dan istri memutuskan untuk mengubah aliran. Dari pengguna kompor menjadi pengguna ‘tungku’. Ya, di zaman modern ini, saya masih beraliran klasik. Orang tua saya saja sampai sekarang masih memakai tungku. Maklum orang tua saya tinggal di kampung. Soal kayu bakar, jangan tanya. Buaaanyak.
Maka, mulai kemarin, saya bersiap-siap menyingsingkan baju. Golok tak lupa saya bawa untuk mematahkan kayu-kayu di hutan. Saya bersyukur, rumah yang saya diami berada di ujung bersebelahan dengan hutan. Sebelum berangkat ke hutan, tak lupa istriku mewanti-wanti, “Hati-hati, ya Aa.” Begitulah kemanapun pergi, jauh atau dekat, istriku selalu memberikan pesan yang menyejukkan. Saya barangkali termasuk salah satu orang yang beruntung di dunia. Ya, memiliki istri salehah. Hehehe.
Dengan langkah pasti, saya memasuki hutan. Ranting-ranting dan kayu-kayu kering saya patahkan, dan terkumpullan kayu-kayu itu. Selesai sudah pekerjaan mengumpulkan kayu. Saya pun pulang ke rumah. Istriku sudah menyambut dengan senyumnya yang khas.
Setelah beristirahat sejenak, saya mulai beraksi. Tungku yang sudah saya buat saya masukkan ranting-ranting dan kayu di dalamnya. Lalu saya nyalakan. Api pun beraksi. Istriku pun menempatkan periuk berisi air di atasnya agar air mendidih. Setelah mendidih baru membuat teh manis hangat yang bisa menghilangkan sedikit kelelahanku.
Saya dan istri untuk sementara tidak menggunakan kompor gas. Selain gasnya tidak ada (hanya kompor gas saja yang saya bawa dari Bogor), saya pun berpikir sepuluh kali lipat. Selain resikonya besar, kami pun memang belum paham pemakaian kompor gas. Khawatirnya, ingin ngirit malah jadi keluar duit. Ya, kalau rumah yang kami diami (yang sebenarnya rumah kakak saya) hancur, siapa lagi kalau bukan kami yang mengganti rugi. Jangankan untuk ganti rugi rumah, dapat makan saja sudah syukur. Makanya, ‘rumah gratis’ ini kami jaga baik-baik. Biarlah kami nikmati saja memasak dengan memakai tungku. Biar dibilang kampungan. Kuno. Emang, saya ini asli orang kampung. Bukankah yang ‘kampung-kampung’ itu mahal lho dan berbobot. Coba bandingkan, mana yang padat isi antara ayam kampung dengan ayam buras (ayam negeri)?
***
Tungku memang menyiratkan kesan. Keindahan itu tidak harus dengan sesuatu yang wah saja. Hal-hal sederhana ‘walaupun’ terkadang ‘terpaksa’ bisa melahirkan keindahan dan kenikmatan. Istriku, yang bisa dibilang dari keluarga yang cukup lumayan ekonominya, justru mengakui, bahwa ia merasakan syukur yang luar biasa dengan kondisi yang serba terbatas dan klasik ini. Padahal, di rumah orang tuanya (baca: mertua saya), ia dibilang serba cukup. Namun, rasa syukur itu tidak begitu tumbuh.
Tungku pun menyiratkan ‘semangat’. Namun, semangat itu mesti ditopang. Bagaimana mungkin tungku itu akan berfungsi mendidihkan air atau memasak nasi, kalau ia tidak ditopang dengan kayu bakar dengan api yang berkobar-kobar.
Jadi, maknailah tungku itu bukan sekedar tungku. Maknailah ia sebagai simbol kesederhanaan, rasa syukur dan spirit kehidupan.
Selamat menggunakan tungku!